Bunda~@ZK@

>>>Karena Hidup Penuh Pilihan …

Rebab dan Cinta

Alkisah, di tengah keramaian jalan sebuah kota kecil, sayup-sayup terdengar suara merdu musik gesek. Suara lagu yang bernada sedih membuat orang yang mendengar alunan musik itu banyak yang terharu.

Selesai memainkan musiknya, terdengar tepuk tangan orang-orang yang dari tadi terkesima mendengar alunan musik nan syahdu. Sejenak kemudian, orang muda yang memainkan alat musik itu pun berdiri dan membungkukkan badannya, mengucap terima kasih atas penghargaan yang diberikan.

Salah seorang penonton setengah baya, yang telah beberapa saat mengamati si pemuda bermain musik, menghampiri pemuda itu dan bertanya kepadanya, ”Hai anak muda, kamu tampaknya bukan penduduk sini. Permainan musikmu bagus sekali. Apa yang hendak kamu sampaikan lewat lagu sedih yang kamu mainkan tadi?”

”Saya memang bukan penduduk sini, Pak. Saya dari desa sebelah yang sedang tertimpa musibah,” terang pemuda itu.

”Kamu ingin uang receh sebagai gantinya?”

”Oh, nggak Pak! Saya tidak menjual musik demi uang recehan,” seru si pemuda.

”Lho, jadi untuk apa kamu bermain musik di tengah keramaian ini?” lanjutnya .

”Sebenarnya saya bermaksud ingin menjual alat musik ini. Saya sengaja bermain musik agar calon pembeli bisa mendengarkan merdunya alat musik kesayangan saya ini,” jawab si pemuda seraya mengangsurkan alat musiknya kepada tuan yang menanyakannya itu.

Sambil menerima dan meneliti alat musik tersebut, si tuan kembali bertanya, ”Jika ini alat musik kesayanganmu, kenapa kamu rela untuk menjualnya?”

”Tolong saya Tuan, istri saya sedang menunggu kelahiran anak kami. Walaupun alat musik ini adalah harta terakhir yang sangat saya sayangi, tetapi saya tahu, saya pasti lebih mencintai istri dan anak saya. Demi sebuah kehidupan baru, rasanya layaklah pengorbanan ini,” jawabnya dengan mata berkaca-kaca.

Mendengar penuturan si pemuda, si tuan lantas merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan kepingan emas. ”Terimalah uang  ini untuk membantu kelahiran anakmu.”

Setelah menerima kepingan emas itu, si pemuda berseru gembira, ”Terima kasih banyak Tuan! Sebagai bonus, saya berjanji akan mengajarkan bagaimana memainkan alat musik ini kepada Bapak.”

Namun, tuan itu ternyata justru mengembalikan alat musik itu kepada si pemuda. Mendapat perlakuan seperti itu, si pemuda merasa kebingungan. Ia lantas bertanya, ”Apa yang salah? Tadi, Bapak sudah mendengar suaranya yang sangat merdu, kan?”

“Ha..ha..ha, tidak ada yang salah. Saya sengaja membayarmu untuk menyimpan alat musik ini. Karena alat ini tempatnya adalah di tanganmu. Saya yakin, tak seorang pun mengenal dan bisa memainkannya sebagus dirimu. Kerelaan menyerahkan hartamu yang paling berharga, demi cinta yang kau berikan layak dihargai dengan upah yang saya berikan.”

Merasa terharu dengan pemberian itu, sambil terbata-bata si pemuda bertanya, ”Bagaimana saya membalas kebaikan ini?”

”Anak muda, berikan cinta kepada anakmu dan limpahkan kasih sayang kepada istrimu, dengan begitu kamu telah melunasi kebaikanku,” ucap sang tuan penolong sambil beranjak pergi meninggalkan si pemuda yang masih terkesima.

Pembaca yang budiman,

Mau berkorban bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan, terlebih lagi jika mengorbankan apa yang paling kita senangi. Tapi, dengan bisa memberi, apalagi memberi tanpa mengharapkan balasan, ini adalah wujud pengorbanan yang akan membawa kebahagiaan.

Seperti cerita di atas, sang pemusik yang mengorbankan satu-satunya benda kesayangan demi keluarganya, telah mendapat balasan kebaikan yang tak disangkanya.

Begitu jugalah semestinya kehidupan yang kita jalani. Demi orang yang kita sayangi, demi sesama dan sekeliling kita yang kekurangan, jika disertai keikhlasan, sebuah pengorbanan akan membuahkan balasan kebaikan.

Ada sebuah kata-kata mutiara bahasa Inggris yang saya rasa sangat cocok untuk diingat dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. ”We make a living by what we get, but we make a life by what we give.” Kita menjalani kehidupan dengan apa yang kita dapatkan, tetapi kita membuat hidup dari apa yang kita berikan. Karena itu, hidup akan terasa lebih hidup dan bernilai, jika kita mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Dengan memberi, kita tidak akan pernah kekurangan. Kita justru akan merasakan nikmatnya berbagi dengan orang lain. Mari, persembahkan yang terbaik bagi orang yang kita sayangi dan kepada sekeliling kita, dengan begitu kenikmatan dan kebahagiaan sejati akan mengiringi langkah kita.

Kata-kata Bijak

Keramahan bertutur kata menciptakan keharmonian. Keramahan berpikir melahirkan toleransi. Keramahan dalam memberi membuat dunia serasa dipenuhi KASIH & DAMAI!

Andrie Wongso (Motivator & Penulis)


Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: