Bunda~@ZK@

>>>Karena Hidup Penuh Pilihan …

Archive for the month “January, 2012”

Alhamdulillah…. Sempurna

Rasa haru dan suka cita akan kehadiran sang buah hati akan membawa dampak tersendiri bagi setiap orang di sekelilingnya. Khususnya aku dan suami. Kini sekarang kami mendapatkan panggilan baru yaitu AYAH & BUNDA. Heemmm…. rasa senang yang tak terkira akhirnya kemaren hari Jumat tanggal 13 Januari 2012 jam 19.00 WIB saya melahirkan putri pertama kami dengan berat 3 kg dan panjang 48 cm. Alhamdulillah…. Sempurna.

Saya melahirkan normal dibantu oleh seorang bidan yang tempatnya tak jauh dari rumahku. Malam sebelum melahirkan, aku merasakan tak nyaman. Bolak-balik ke kamar mandi tapi tak merasakan sakit sedikitpun. Sampai menjelang subuh cairan bening keluar aku kira hanyalah keputihan biasa, dan ternyata air ketuban sudah pecah duluan.

Jam 07.00 WIB berangkat ke bidan dengan maksud hanya periksa saja (karena sejak awal rencana melahirkan di bidan saja). Eh… ternyata sama bidan dilarang pulang karena ketuban sudah pecah duluan dan sudah bukaan satu. Tapi anehnya tak merasakan sakit sedikitpun, hanya cairan terus merembes tanpa hentinya (Alhamdulillah tak sampai banyak air ketuban yang keluar).

15 menit kemudian si bidan pamit mau ke Puskesmas dan akan kembali jam 11.00 WIB. Beliau juga berpesan jika sampai siang belum ada penambahan pembukaan maka harus dilakukan tindakan yaitu drip. Selintas kebayang omongan teman-teman kantor “Kalau melahirkan jangan sampai di drip“, karena katanya kalau sampai di drip rasa sakitnya minta ampun. (^_^) heemmm takut. Tapi apa boleh buat aku hanya pasrah jika memang jalannya seperti itu, yang penting aku dapat melahirkan secara normal, pikirku.

8… 9…. 10…. dan jam 11.00 WIB tepat Bu Bidan datang. Beliau langsung memeriksa aku daaannn….. ternyata tidaaakkkk…. pembukaan belum juga bertambah hanya intensitas ke kamar mandi (buang air kecil) sangat sering. Akhirnya tak ada pilihan drip-pun dipasang. 1 jam,,,, 2 jam,,, belum aku rasakan apapun juga. Dan setelah 3 jam kemudian tepatnya jam 14.00 WIB aku mulai merasakan mulas di perut, setelah diperiksa ternyata ada penambahan pembukaan itupun hanya satu. Aduh,,,, kok lama banget ya…, pikirku. (Rasa tak sabar ingin melihat buah hatiku terlahir ke dunia)

Jam telah menunjuk ke jam 16.00 WIB, rasa sakit kian melilit di perut, ternyata bukaan bertambah lagi, menjadi empat. dan Adzan magrib berkumandang tetapi rasa sakit kian sangat. Jam 18.00 WIB bukaan bertambah menjadi delapan (rasanya tak dapat diceritakan, heemmmmm (sambil membayangkan)). Jam 18.30 WIB Alhamdulillah bukaan sudah lengkap dan tiba waktunya untuk berjuang mengeluarkan si jabang bayi. Adzan Isya’ berkumandang terdengar sayup-sayup di telinga. Setelah adzan selesai aku lanjutkan perjuangan dan Alhamdulillah…. tepat jam 19.00 WIB putri pertamaku lahir, dan selanjutnya diberi nama

“FARIDAH AZKA SALMA”

Semoga kelak dapat menjadi anak yang Solikhah, Cantik, Cerdas, dan Dapat membahagiakan orang tua. Amin…..

Thanks You Allah…. Thanks You My Husband yang menemaniku saat detik-detik perjuanganku (walaupun takut darah masih saja bertahan di dalam untuk menemaniku). Terima kasih juga kepada Ibuku (Neneknya Azka) yang langsung berangkat dari Tulungagung hingga sampai Malang pukul 23.00 WIB setelah mendengar cucunya akan dilahirkan (Padahal waktu ditelpon kalau aku mau lahiran, Beliau di Pacitan. Langsung pulang ke Tulungagung sampai rumah jam 18.00 WIB dan langsung berangkat ke Malang). Dan… buat Ibu  mertuaku yang juga menemaniku saat berjuang.

Thanks You All…. yang tak dapat disebutkan satu persatu. Trimakasih atas dukungan dan semangat yang telah diberikan.

 

 

Advertisements

Mengintip Persiapan Bali Sebagai Pulau Organik

Siapa yang tak kenal dengan Pulau Bali? Sebuah pulau yang menyediakan keindahan alam, dan menampakkan pesonanya tersendiri bagi yang menikmatinya. Tak hanya wisatawan dalam negeri saja yang dapat menikmati keindahannya, tetapi juga banyak wisatawan asing yang dapat menikmati keindahan pulau dewata ini, bahkan mereka rela tinggal berhari-hari bahkan berminggu-minggu di Pulau Bali hanya untuk melepas penat bersama keluarga.

“Pulau Bali Menuju Pulau Organik”

Apa Yang Terjadi Pada Pertanian sekarang?

  • Tanah pertanian semakin rusak, akibat pupuk kimia, coba perhatikan jika petani mengolah lahannya, apalagi saat membajak untuk palawija, gumpalan tanah yang dulunya gembur sekarang berubah menjadi gumpalan-gumpalan tanah liat, disaat musim hujan tanah pertanian akan menjadi tanah liat dan pada saat musim kemarau permukaan tanah pertanian terlihat pecah dan menggumpal.
  • Penggunaan pestisida, dengan penyemprotan berdampak langsung terhadap kesehatan, tanpa sadar hasil pertanian yang kita makan atau konsumsi sudah menimbun racun zat kimia di dalam tubuh kita.
  • Penghasilan/ pendapatan sawah pertanian semakin menurun, karena penggunaan pupuk menjadi semakin banyak.
  • Kebanyakan budaya petani sekarang terpengaruh budaya instan, praktis, dan kurang memikirkan dampak lingkungan yang lebih luas dimasa datang.

Fakta-fakta di atas merupakan sebagian kecil masalah yang kasat mata, yang justru akan berdampak bagi kita semua dalam jangka panjang. Berawal dari tahun 2010, Gubernur Bali menyatakan akan mencabut subsidi pupuk kimia. Tindakan ini dilakukan untuk mewujudkan Bali Organik untuk mencegah semakin rusaknya alam Bali. Tiap tahun, Bali kehilangan tanah 5-10 juta meter kubik akibat tergerus air laut. Gubernur Bali bertekad akan mewujudkan Bali Organik tanpa zat kimia. Upaya pencabutan subsidi pupuk kimia akan mendorong penggunaan pupuk organik. Berlanjut dari situ, kini Pemerintah Provinsi Bali berencana untuk menjadikan Bali sebagai pulau organik. Pulau Bali juga menargetkan implementasi pulau organik tersebut akan terealisasi dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Seperti dilansir VOA dalam situsnya yang berjudul “Pemprov Bali Bertekad Jadikan Bali sebagai Pulau Organik”. Pada dialog awal tahun oleh Gubernur provinsi Bali Made Mangku Pastika menyatakan telah menyediakan dana Rp. 4 miliar bagi subsidi pupuk organik sebagai upaya untuk mewujudkan Bali sebagai pulau organik.

Tak hanya upaya dengan menyediakan dana saja, ternyata Pemprov Bali juga telah menyiapkan persiapan-persiapan lain, yaitu dengan meluncurkan program sistem pertanian terinterasi (Sumantri). Simantri adalah upaya terobosan dalam mempercepat adopsi alih teknologi pertanian kepada masyarakat perdesaan. Simantri mengintegrasikan kegiatan sektor pertanian dengan sektor pendukungnya baik secara vertikal maupun horizontal sesuai potensi masing-masing wilayah dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal yang ada. Inovasi teknologi yang diintroduksikan berorientasi untuk menghasilkan produk pertanian organik dengan pendekatan  ”pertanian tekno ekologis ”. Kegiatan integrasi yang dilaksanakan juga berorientasi pada pengembangan usaha pertanian tanpa limbah (zero  waste) dan menghasilkan 4 F (food, feed, fertilizer, dan fuel). Kegiatan utama adalah mengintegrasikan usaha budidaya tanaman dan ternak, dimana limbah tanaman diolah untuk pakan bermutu (makanan ternak) dan cadangan pakan pada musim kemarau dan limbah ternak (faeces, urine) diolah menjadi bio gas, bio urine, pupuk organik, dan bio pestisida.

Kegiatan Simantri tahun 2010, Dilaksanakan pada 40 lokasi Desa di Bali

Sebenarnya apa pertanian organik itu? Pertanian organik adalah sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, yang mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro-ekosistem secara alami, sehingga mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan. Sejumlah keuntungan yang dapat dipetik dari pengembangan pertanian organik adalah, antara lain:

  • Menghasilkan produk pertanian yang aman, bergizi, dan mempunyai kandungan vitamin yang lebih tinggi.
  • Kualitas tanah pertanian tetap terjaga karena semua proses penanaman berjalan secara alami.
  • Pertanian organik adalah sistem pertanian yang hemat energi.
  • Tidak merusak kualitas air akibat pemakaian pestisida dan pupuk kimia.
  • Kualitas udara di sekitar lahan pertanian organik tetap bagus.
  • Limbah bisa dimanfaatkan karena pupuk organik menggunakan kotoran ternak.

Nah, jika banyak keuntungan yang didapat dari pertanian organik, kenapa hanya diwujudkan di Pulau Bali saja? Sebagai warga Indonesia yang baik dan peduli akan lingkungan, mari kita wujudkan pertanian organik diberbagai daerah kita masing-masing, sebagai wujud cinta akan alam lingkungan kita.

Tidak hanya wujud peduli kita terhadap lingkungan. Pertanian organik juga mampu meningkatkan pendapatan ekonomi para petani. Karena melalui sistem Simantri petani tidak saja mendapatkan penghasilan dari hasil pertanian tetapi juga dari penjualan pupuk organik, hasil ternak, dan hasil pemanfaatan biogas.

 Artikel ini diikutkan kontes ngeblog VOA bulan Januari 2012

Post Navigation